December 21, 2011 - Posted by rosdi bahtiar martadi - 0 Comments

Puisi
Rosdi Bahtiar Martadi
SERUMPUN SUBUH
Lama sekali aku tak menyiramkan lelehan kelelahan
di ruas-ruasmu, wahai serumpun subuh
Selusin barisan garam
telah menghampiriku dengan tarian penuh goda
dan selendang yang tercipta dari aksara-aksara
yang teramat segar
Lama sekali aku tak membungkus derit-deritmu
wahai serumpun subuh
seekor kuda yang berasap
telah lantang menusukkan sebilah puisi
ke dalam iga-iga fajar
seorang lelaki yang bersendagurau dengan cucunya
telah mengingatkanku pada metamorfosa daun-daun
Lama sekali aku tak menata meja makanmu
wahai serumpun subuh
sekotak crayon telah menjelma
menjadi lembing yang melintasi selat-selat
selembar sketsa telah lembab
oleh tetesan airmata serombongan jalak
Lama sekali aku tidak meraut pensil di ruang bacamu
wahai serumpun subuh
Meski tak sempurna memahami kefanaan
akhirnya aku pun menyerah
kepada bunga-bunga jagung yang telah
membantai kedengkianku
Banyuwangi, 13 Desember 2006
/////////////////////////////////////////////////
*keterangan foto : foto karya : Rossi (Satu ide Home Production) 14 Juli 2009. Lokasi : Pulau Tabuhan , Banyuwangi. Canon EOS 400D Digital. ArtWork Design : Rosdi B. Martadi (AdobePhotoshop CS 3).
December 20, 2011 - Posted by rosdi bahtiar martadi - 0 Comments

Puisi
Rosdi Bahtiar Martadi
SANENREJO
adalah kunang-kunang yang menjinjing
bahasa halusmu, Sanen
melapukkan tangkai kabut
hingga putik-putik puisiku tertunduk malu
adalah daunan kering
yang setia menabuhkan rebana pengembaraan
meletupkan api kecilmu, Sanen
pada Gunung Mandilis-mu mereka titipkan
salam pamit, dan sebuah surat lugu pohonan
telah tertulis untukmu, Sanen
adalah derit tali ranselku
menjadi perkusi bagi irama daun jati
batang-batang bambu yang riang bernyanyi denganmu
kini telah menerbangkan helai-helai doaku
dan biarkan kupanggil namamu :
Sanenrejo
sebuah geliat peradaban yang tertoreh
dalam genting-genting yang bertumpuk
di halamanmu, memainkan not balok
yang ditulis para tengkulak kota
rimba yang kaya selalu mengucap salam lewat kabut
menyusup di sela-sela dinding bambu juga bahkan
pada kelewang para lelaki
Sanen, seberapa besar pesta pora yang kau maui ?
asoka menguncup dan sang rimba pun tertelungkup takut
Sanenrejo, anggukan kecil, senyum yang renyah
di sela-sela klobot yang terbakar, masihkah itu ?
kota telah menjadi mobil-mobilan kecil
dalam timangan bocah-bocah kecilmu
bahkan asap kretek filter pun lebih pekat
dari kabut malammu
rimba itu segera membuka kancing bajunya, Sanen
memperlihatkan bekas-bekas luka yang sudah
terlalu lama
entah bagian mana lagi yang mesti dilukai
setiap jengkal tubuhnya telah carut-marut
oleh pisau yang ber-merk konsumerisme
dan hedonisme
Sanenrejo, Jember, 1998
//////////////////////////////////////
Sumber foto : galeri foto http://item.slide.com/r/1/0/i/lVyBkqWk6j8SulkzhSxITF8Mbgsy72Ly/ yang terdapat di http://sanenejodesa.wordpress.com
December 3, 2011 - Posted by rosdi bahtiar martadi - 0 Comments

Tumpang Pitu, Kado Indah di bawah Ancaman Sianida
Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi
Perkenalan pertama saya dengan kaki Gunung Tumpang Pitu terjadi 3 hari setelah tsunami melanda Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi. Tepatnya menjelang ashar pada hari Senin 6 Juni 1994. Kenapa saya bisa begitu ingat? Karena pagi harinya merupakan salah satu momen penting dalam hidup saya. Di hari itulah saya membubuhkan 3 jari saya ke ijazah SMA.
Selain puing-puing rumah, runtuhan tambak, dan tentara-tentara yang rehat, angin yang berhembus kencang dari arah tenggara juga jadi penyambut awal panca-indera saya. Maklumlah waktu itu musim timur sedang berlangsung, musim dimana angin tenggara sedang kencang-kencangnya. Meski biasanya musim timur berpuncak pada bulan Juli-Agustus, namun angin kencang pada Juni 17 tahun silam itu telah memaksa saya untuk segera mengancingkan kemeja flanel saya yang sebelumnya terbuka.
Rasanya, tak salah jika ada warga setempat yang menyebut G. Tumpang Pitu sebagai benteng angin. Saya telah membuktikan pendapat ini sejak 17 tahun lalu. Seandainya gunung setinggi lebih kurang 450 mdpl itu tak ada, maka niscaya angin yang mendera saya akan jauh lebih kencang hembusannya. Gunung dengan variasi kemiringan 8-40% itu telah berjasa memecah angin tenggara, sehingga kekuatannya terkurangi begitu sampai di Dusun Pancer.
Tak cuma jadi benteng angin. Gunung berstatus hutan lindung itu juga jadi patokan arah pulang nelayan Pancer. Adalah Sumarno, nelayan yang pernah melaut hingga 80 mil dengan menggunakan perahu tradisional itu yang menceritakannya pada saya.
“Jika saya telah mencapai jarak 50 mil, maka daratan Jawa akan mulai terlihat sebagai garis tipis. Jika daratan Jawa sudah hilang dari pandangan, itu artinya saya telah memasuki jarak 60 mil,” tuturnya saat saya jumpai di rumahnya pertengahan tahun 2008 lalu.
Saya pun bertanya apa yang menyebabkan dia begitu berani melayari segara kidul (laut selatan) yang terkenal ganas itu?
“Faktor perut, mas. Nelayan itu ndak takut mati, tapi takut lapar,” jawabnya sambil terkekeh.
Ketika saya menyampaikan kekaguman saya atas keberaniannya, sontak Sumarno menepisnya. Dia menganggap melaut hingga 80 mil adalah hal biasa yang tak perlu dikagumi. “Malu, mas. Karena ada teman saya yang sudah tembus sampai 100 mil,” katanya.
Selain jadi patokan arah pulang nelayan Pancer, gunung yang memiliki ketebalan solum lebih dari 30 cm itu juga berjasa menjamin ketersediaan air bagi warga yang hidup di sekelilingnya. Sebagai catchment area (kawasan tangkapan air), gunung yang berada dalam pengelolaan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyuwangi Selatan ini secara hidro-orologis merupakan salah satu kawasan penting bagi daur air Jawa Timur. Karena itu, tak berlebihan jika pada era Gubernur Imam Utomo, Pemprop Jatim lewat Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) menetapkannya sebagai “Kawasan Potensi Air Bawah Tanah” dengan kategori sangat tinggi. Dokumen RTRWP era Gubernur Imam Utomo pun menahbiskannya sebagai kawasan yang memiliki potensi air bawah tanah sebesar 30 liter perdetik. Potensi ini jauh di atas rata-rata potensi air bawah tanah Desa Sumber Agung yang berkisar 15-20 liter perdetik (kategori sedang).
Dengan potensi air bawah tanah sebanyak itu, tidaklah heran jika hutan lindung yang bercurah hujan rata-rata 0,7-13,6 mm itu juga menjadi rumah yang nyaman bagi flora seperti : Jambu hutan (Eugenia sp), Akasia (Acacia auriculiformis), Ketangi/bungur (Lagerstromia speciosa), Asem (Tamarindus indicus), Nangka (Artocarpus integra), Johar (Cassia siamea), Buni (Antidesma bunius), Beringin (Ficus benjamina), Petai hutan (Parkia sp.), Mangga hutan (Mangifera ordorata), Jati (Tectona grandis), Bambu (Bambusa sp.), Kemlandingan (Leucaena glauca), Kerinyu (Euphatorium palescens), Sirih hutan (Piper aduncum), Suweg (Amorphopalus companulatus).
Hutan lindung seluas 1.251,5 ha ini juga jadi tempat hidup mamalia seperti : Babi Hutan (Sus vittatus), monyet (Macaca fascicularis), Kijang (Muntiacus muntjak), Rusa (Cervus unicolor), Bajing, Landak, dan Musang.
Jenis burung juga menghuni hutan yang memiliki kelembaban rata-rata 78,75% ini, seperti; Burung Gereja (Passer montanus), Kuntul Cina (Egretta eulophotus), Perkutut (Geopelia striata), Pipit (Lonchura sp), Prenjak (Prinia flaviventris), Sikatan (Cyornis concreta), dan Tekukur (Streptophylia chinensis), Ayam Hutan (Gallus bankiva), dan Camar Laut. Raptor (burung pemangsa) juga sempat terlihat disana.
Tak hanya hutan G. Tumpang Pitu yang jadi rumah bagi fauna, laut yang berada di kaki
G. Tumpang Pitu juga jadi tempat hunian yang nyaman bagi ikan-ikan yang umumnya ditangkap nelayan, seperti : Tongkol, Layur, Layang, Pari, Bengkunis Ekor Kuning, Bawal, Kembung, Selar, dan Rajungan.
Nyamannya laut di kaki G. Tumpang Pitu sebagai hunian ikan-ikan itu pula yang menjadikan Pancer sebagai salah satu sentra penghasil ikan yang penting bagi Kabupaten Banyuwangi. Terbukti, dalam talk show “Hari Nelayan Indonesia” yang disiarkan Radio VIS FM pada tanggal 6 April 2011 lalu, Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi secara gamblang menyatakan, 3 titik penting perikanan kelautan Kab. Banyuwangi adalah Muncar, Grajagan, dan Pancer.
Hal itu juga dikuatkan oleh pengakuan Mursyid, seorang pengepul kerang asal Desa Sumber Agung, Kec. Pesanggaran. Pengepul berusia 48 tahun ini menuturkan, tidak kurang dari 200 orang terlibat dalam alur produksi kerang yang biasanya dikirim ke Surabaya itu. Menurut Mursyid, kerang yang dikirim ke ibukota Jawa Timur tersebut kisarannya 5-6 kuintal tiap bulannya. Kerang-kerang yang diperoleh di kawasan Lampon, kaki Tumpang Pitu, dan Permisan itu dalam setiap bulannya telah menghasilkan putaran uang sebanyak 70 juta rupiah. Dari putaran uang sebanyak itu, Mursyid mengaku jika hasil bersih untuk dirinya seorang berkisar 6-10 juta rupiah perbulan.
Pendek kata, Tumpang Pitu adalah anugerah bagi lebih dari 30.000 orang warga Kec. Pesanggaran. Tumpang Pitu—mulai dari bentang alamnya, hutannya, hingga laut yang mengombak di kakinya—merupakan kado indah dari Tuhan bagi keberlangsungan hidup warga Kec. Pesanggaran. Belum lagi keindahan panorama pantai pasir putihnya yang berpadu dengan Pulau Merah. Benar-benar magma pariwisata yang belum tergarap optimal.
Namun, kado indah dari Tuhan itu kini berada di bawah bayang-bayang ancaman dampak pertambangan emas. Jika PT Indo Multi Niaga (IMN) nantinya dilegalkan mengeksploitasi emas yang dikandung Tumpang Pitu, maka maka bayang-bayang ancaman dampak emas akan menghantui ketersediaan air bagi warga, dan juga nasib dunia pertanian di sekitar Tumpang Pitu. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengkaji, jika nantinya IMN dibolehkan mengeksploitasi emas Tumpang Pitu, maka perusahaan yang dinahkodai Andreas Reza itu akan menghisap air sebanyak 2,038 juta liter perhari demi kepentingan pengolahan emas. Tentu bukanlah sebuah hisapan air yang kecil, dan tentu pula akan mempengaruhi keberlangsungan hidup warga Kec. Pesanggaran yang 82,85 %-nya adalah petani.
Kegemilangan dunia perikanan laut—khususnya kerang—di kaki G. Tumpang Pitu kini juga berada di bawah bayang-bayang ancaman dampak pertambangan emas. Jatam juga menganalisis, jika IMN diijinkan melakukan eksploitasi emas, maka nantinya IMN akan menggelontor Teluk Pancer dengan tailing (limbah tambang) sebanyak 2.361 ton perhari. Lungsuran tailing sebanyak 2.361 ton perhari ke Teluk Pancer tak hanya akan jadi kabar buruk bagi kampung-kampung nelayan tetangga Tumpang Pitu, seperti : Lampon, Grajagan, dan Rajegwesi. Tetapi juga akan memupus impian pengembangan industri wisata Pulau Merah.
Tailing sebanyak 2.361 ton perhari, sungguh! Ini bukan angka yang main-main! Jika tailing PT Newmont Minahasa Raya (NMR) sebanyak 2.000 ton perhari saja telah membuat banyak persoalan di Teluk Buyat, Minahasa, maka bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika IMN diperkenankan mengeksploitasi emas Tumpang Pitu? Mengingat jumlah tailing IMN nantinya selisih 361 ton lebih banyak jika dibandingkan dengan tailing NMR.
Bayangkan pula, bagaimana jika tsunami justru terjadi ketika Teluk Pancer telah berubah jadi “kolam” tailing? Pastilah akan berbeda dengan tsunami 1994, karena tak hanya air laut yang akan menghempas Pancer, tetapi juga ribuan ton sianida. Ini bukanlah kekhawatiran yang berlebihan, karena pada saat tulisan ini saya ketik, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru saja menetapkan Indonesia sebagai Peringkat Pertama Dunia untuk kategori negara paling berresiko tsunami.
Kecamatan Pesanggaran—terutama Dusun Pancer—adalah kawasan rawan bencana alam (wa bil khusus tsunami). Menghadirkan industri ekstraktif berresiko tinggi—seperti pertambangan emas—tentunya bukanlah tindakan arif. Tsunami memang bencana alam yang tak pernah kita ketahui kapan datangnya. Tsunami memang hak prerogratif Tuhan yang tak secuil pun kita mampu membatalkannya. Namun alangkah naif-nya, jika kita masih menambah bahaya tsunami tersebut dengan bahaya sianida. Lebih naif lagi, isu tsunami ataupun keberadaan Pancer sebagai kawasan rawan bencana sama sekali tak disebut-sebut dalam Analisis Dampak Lingkungan (Andal) IMN.
Akankah kita menambah arus pusaran ke-naif-an ini dengan mendukung rencana eksploitasi emas berkonsesi seluas 11.621 ha itu? Ataukah kita memilih untuk memutus rantai ke-naif-an itu dengan berjuang mengadvokasinya demi keselamatan hidup di masa mendatang? Pilihan dan sikap kita hari ini akan menentukan kualitas hidup macam apakah yang akan kita wariskan kepada anak-cucu kita nanti.*****
Banyuwangi, 11 Agustus 2011
//////////////////////////////////////////
**penulis adalah relawan Kappala Indonesia (2000-sekarang)
**esai di atas dimuat di Buletin “Pakem” no. 1 November 2011, Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia koordinasi daerah Jawa Timur (FK3I korda Jatim).
**keterangan foto : Judul “Makam Pulau Merah”, karya : TTH, 3 Juli 2011. Canon EOS 1000D, F 5.6, 1/125, ISO 100.
December 3, 2011 - Posted by rosdi bahtiar martadi - 0 Comments

Dimana Bumi Dipijak, di sanalah Langit Dijunjung
Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi
Salah satu penyebab kegagalan gerakan pembelaan lingkungan hidup adalah kurangnya dukungan publik (masyarakat). Jika dirunut lebih dalam, minimnya dukungan masyarakat itu tak jarang lahir sebagai akibat dari cara pandang para pelaku gerakan pembelaan lingkungan (aktivis lingkungan) dalam memandang persoalan lingkungan hidup itu sendiri. Persoalan lingkungan dianggap “hanya” menjadi tanggung jawab aktivis lingkungan, sehingga mereka “lupa” mengundang simpati masyarakat untuk turut berperan dalam gerakan lingkungan.
“Ke-lupa-an” mengundang simpati publik ini seringkali terjadi karena ketidakmampuan aktivis lingkungan dalam memaknai dan mengelola perasaan heroisme gerakan lingkungan. Aktivis lingkungan kerap merasa heroik jika bisa melakukan advokasi lingkungan hidup sendiri tanpa pihak lain, sehingga kasus lingkungan yang tengah diadvokasinya menjadi sesuatu yang eksklusif dan hanya dimengerti kalangan aktivis lingkungan hidup saja. Akibatnya, masyarakat merasa asing terhadap gerakan lingkungan yang tengah dijalankan aktivis lingkungan. Akibat lainnya, masyarakat merasa tak ikut memiliki kasus lingkungan yang tengah diadvokasi, masyarakat merasa tak memiliki urusan atau hubungan apapun dengan kasus lingkungan yang dimaksud. Dan yang paling parah, masyarakat merasa tidak perlu berperan dalam kasus lingkungan—yang sebenarnya juga mengancam mereka—hanya karena mereka merasa tak memiliki predikat sebagai aktivis lingkungan. Jika hal ini terjadi, maka apriori dan antipati masyarakat pun lahir. Dan ujung yang paling mengerikan adalah : pelaku kerusakan lingkungan yang memiliki kelimpahan uang justru akan melakukan pendekatan kepada masyarakat, lalu dengan segala cara membenturkan masyarakat dengan aktivis lingkungan.
Dari permenungan di atas, kita pun sadar bahwa dukungan masyarakat merupakan hal penting dalam sebuah gerakan lingkungan. Tidak hanya karena kebutuhan sejumlah besar massa, tidak hanya demi kuatnya tekanan buat kekuasaan yang tak ramah lingkungan, namun lebih dasar dari itu : faktanya kita tak hidup sendiri di bumi ini, dan kita memang tak bisa menyelamatkan bumi ini sendirian.
Jika sudah begitu, pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar masyarakat mendukung gerakan lingkungan hidup yang kita bangun?
Dalam logika advokasi lingkungan hidup, tingkatan tertinggi dalam sebuah gerakan pembelaan lingkungan adalah terciptanya sebuah keadaan dimana masyarakat tidak hanya tahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara, dan tidak hanya memahami masalah lingkungan hidup yang sedang dan akan mengancamnya. Namun lebih dari itu, masyarakat bertindak membela diri mereka sendiri, serta menjalankan upaya-upaya yang bertujuan mengatasi masalah lingkungan hidup yang sedang dan akan mengancamnya. Tingkatan lainnya adalah keadaan dimana masyarakat bergerak bersama dengan aktivis lingkungan, merancang tindakan bersama yang tujuannya mengatasi masalah lingkungan.
Tingkatan ideal sebagaimana disebut di atas baru dapat terjadi jika ada beberapa proses yang dilalui. Untuk mendorong terjadinya kondisi masyarakat yang bisa bergerak dan merancang sendiri tindakannya, maka pelaku advokasi lingkungan mesti mengumpulkan dan mengkaji data serta informasi, kemudian melakukan analisis sosial (ansos) agar dapat merancang dengan tepat teknik pendekatan kepada masyarakat. Jika rancangan teknik pendekatan tersebut telah dirumuskan, maka selanjutnya adalah bagaimana mengalirkan data dan informasi itu kepada anggota atau tokoh masyarakat yang tepat. Harapannya, dengan data dan informasi tersebut masyarakat jadi tergerak untuk bertindak. Dan tentunya, dari sekian proses itu pelaku advokasi lingkungan mesti melakukan pendampingan dan komunikasi dengan masyarakat.
Pendampingan memang menjadi nadi utama dalam advokasi lingkungan. Salah satu faktor yang menentukan kualitas sebuah pendampingan adalah ketepatan analisis sosial (ansos) pada masa-masa awal pelaku advokasi mendekati masyarakat. Atau dengan kalimat lain, ketepatan pendampingan dipengaruhi oleh ketepatan pelaku advokasi dalam mengamati masyarakat.
Lantas, bagaimana kita bisa mendampingi dan mendekati masyarakat secara tepat jika tidak mengamati dan mengkajinya? Sementara itu, pengkajian terhadap suatu masyarakat tertentu tidaklah akan melahirkan hasil kajian yang tepat jika dilakukan tanpa mengkaji kebudayaannya. Hal ini dikarenakan kebudayaan memiliki keterkaitan yang erat dengan masyarakat. Bahkan kebudayaan adalah faktor penentu apakah kumpulan orang-orang yang hidup bersama bisa disebut sebagai masyarakat ataukah tidak. Hal ini, dikuatkan oleh pendapat Selo Soemardjan yang menyatakan bahwa, masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
Jadi, tidaklah berlebihan jika dikatakan, bila ingin mendapatkan hasil kajian yang tepat atas suatu masyarakat tertentu, maka haruslah dilakukan kajian atas kebudayaan yang terdapat di dalam masyarakat itu sendiri. Kebudayaan menjadi penting dikaji, bukan hanya dikarenakan kebudayaan adalah penentu apakah suatu kumpulan orang-orang bisa disebut sebagai masyarakat ataukah tidak. Tetapi lebih daripada itu, kebudayaan mempengaruhi apa-apa yang terdapat di dalam masyarakat. Kekuatan kebudayaan dalam mempengaruhi masyarakat ini juga dilontarkan oleh Melville J. Herkovits dan Bronislaw Manilowski dalam teorinya yang populer disebut sebagai culture determinism (determinisme kebudayaan). Dalam teorinya tersebut, Melville J. Herkovits dan Bronislaw Manilowski menyatakan, bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu sendiri.
Lalu, apa dan bagaimanakah kajian kebudayaan itu? Untuk menjawabnya, yang pertama mesti dilakukan adalah memamahami dulu definisi kebudayaan. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari rumusan Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi tersebut dapatlah sementara disimpulkan bahwa apapun yang dihasilkan dari karya, rasa, dan cipta masyarakat adalah kebudayaan. Jika demikian, alangkah luasnya hal-hal yang harus diamati dalam kajian kebudayaan itu. Luasnya kajian kebudayaan ini mendorong beberapa ahli untuk melakukan pengelompokan-pengelompokan atas fokus akademik kebudayaan. Dalam kajian kebudayaan, pengelompokan fokus tersebut menghasilkan beberapa istilah penting, yakni unsur Universal Kebudayaan, Unsur Normatif Kebudayaan, dan Wujud Kebudayaan.
Unsur Universal Kebudayaan
Seorang antropolog dunia, C. Kluckhohn pernah mengumpulkan definisi-definisi tentang kebudayaan dari berbagai sarjana antropologi. Tidak hanya mengumpulkannya, Kluckhohn juga menelaah definisi-definisi itu, hingga akhirnya dia memperoleh kesimpulan bahwa dari sekian definisi kebudayaan tersebut ada 7 (tujuh) unsur yang bersifat universal dan bisa didapati dalam semua kebudayaan bangsa manapun di dunia ini, 7 unsur tersebut disebut sebagai “unsur-unsur kebudayaan universal” atau cultural universals. 7 unsur tersebut antara lain:
1. Sistem religi dan upacara keagamaan
2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan
3. Sistem pengetahuan
4. Sistem ekonomi dan mata pencaharian
5. Peralatan hidup
6. Bahasa
7. Kesenian
Unsur Normatif Kebudayaan
Ralph Linton menyebut kebudayaan sebagai blue print for behavior (cetak biru perilaku). Pendapat tersebut mengandung makna, bahwa kebudayaan menjadi sumber patokan perilaku suatu masyarakat. Karena menjadi patokan perilaku maka kebudayaan pun menjadi alat ukur untuk menentukan apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya dilakukan masyarakat. Karena mempengaruhi masyarakat dalam menentukan hal-hal normatif (apa yang seharusnya dan apa yang dilarang), maka kebudayaan pun memiliki unsur normatif kebudayaan. Menurut Ralph Linton unsur normatif kebudayaan ada 3, yakni :
1. Valuational Elements (unsur-unsur yang berhubungan dengan penilaian). Misalnya apa yang baik dan apa yang buruk. Apa yang menyenangkan dan apa yang tak menyenangkan. Apa yang sesuai dan apa yang tak sesuai.
2. Prescreptive Elements (unsur-unsur yang berhubungan dengan apa yang seharusnya). Misalnya bagaimana seseorang harus bertingkah laku. Bisa juga dimaknai sebagai unsur yang menjadi petunjuk atau pedoman bagi anggota masyarakat harus bertingkah laku seperti apa.
3. Cognitive Elements (unsur-unsur yang berhubungan dengan kepercayaan). Misalnya keharusan untuk mengadakan upacara-upacara pada momentum-momentum penting (kelahiran, perkawinan dan lain-lain).
Wujud Kebudayaan
Wujud kebudayaan paling sedikit ada 3, yakni :
1. Wujud ideal. Artinya, Kebudayaan sebagai kumpulan dari ide, gagasan atau pikiran. Hasil dari wujud ideal ini misalnya: keadaan ideal yang dicita-citakan masyarakat, nilai-nilai, norma, atau peraturan.
2. Wujud aksi atau sistem sosial. Artinya, kebudayaan sebagai kumpulan tindakan atau aktivitas masyarakat.
3. Wujud fisik. Artinya, kebudayaan sebagai kumpulan hasil karya manusia. Atau bisa juga disebut juga wujud bendawi. Dalam klasifikasi ini, kebudayaan lebih dipandang dalam bentuk kongkret (bisa dirasakan oleh panca-indera). Misalnya : candi, kantor pos, kincir angin, kain batik, dll.
Ketepatan kita dalam menganalisis unsur universal kebudayaan, unsur normatif kebudayaan, dan wujud kebudayaan akan mempengaruhi kecermatan kita dalam menilai corak masyarakat yang bagaimanakah yang tengah kita amati. Dari rangkaian analisis tersebut, maka selanjutnya yang perlu dirancang adalah cara pendekatan terhadap masyarakat.
Pendekatan terhadap masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor dari dalam diri aktivis lingkungan yang hendak melakukan pendekatan terhadap masyarakat. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor di luar diri aktivis lingkungan.
Yang pertama kali harus dikelola dengan tepat adalah faktor internal. Semisal tentang pilihan bahasa tubuh, pilihan busana, reduksi kebiasaan-kebiasaan buruk di tempat aktivis lingkungan berasal, motivasi (niat), mood, penyakit bawaan, problem eksistensi dan lain-lain. Jika faktor internal ini tidak dikelola dengan baik, maka itu sama saja dengan merancang kegagalan. Jika aktivis lingkungan tidak bisa membawa dirinya, maka misi gerakan lingkungan akan terancam gagal.
Berikutnya adalah faktor di luar diri aktivis lingkungan. Bisa berasal dari masyarakat yang tengah didekatinya, atau bisa pula dari pihak ketiga. Misalnya : black champaign pihak ilegal logger terhadap aktivis lingkungan, kebijakan pemerintah, represifitas oknum aparat, media massa, keadaan alam, stratitifikasi sosial di dalam masyarakat yang tengah didekati, dan lain-lain.
Stratifikasi Sosial
Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi bagaimana pola pendekatan masyarakat adalah stratifikasi sosial (pelapisan masyarakat). Stratifikasi sosial penting diamati karena dari amatan tersebut kita akan tahu pengaruh di dalam sebuah masyarakat itu lebih banyak karena faktor apa saja. Lewat pengamatan stratifikasi sosial pula kita bisa tahu apa yang paling menstimulasi masyarakat untuk bergerak. Serta lewat pelapisan sosial kita bisa mengetahui kelompok manakah yang tengah mendominasi.
Yang pertama harus disadari bagi seorang aktivis lingkungan—sekalipun dia seorang penganut egalitarianisme—ialah : pelapisan sosial itu sesuatu yang niscaya ada dalam masyarakat, pelapisan sosial itu sunatullah, pelapisan sosial itu alamiah. Dan yang terpenting, pelapisan sosial itu bukan untuk dimusnahkan, namun dikelola untuk mereduksi dampak negatif.
Ada beberapa versi pelapisan sosial. Salah satunya adalah yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, menurutnya lapisan-lapisan (strata) yang terjadi di dalam masyarakat itu terjadi akibat adanya ukuran-ukuran yang dipakai untuk menstratifikasi (menggolong-golongkan) masyarakat. Ukuran-ukuran tersebut antara lain :
1. Ukuran kekayaan. Dalam masyarakat tertentu, penentuan penghormatan dan hirarki struktur masyarakat ada yang menggunakan ukuran kekayaan. Artinya, makin kaya seseorang akan makin dihormati dan dipatuhi.
2. Ukuran kekuasaan. Dalam masyarakat tertentu, siapa yang berkuasa maka dia berhak mendapatkan penghormatan komunal dan menempati status lebih tinggi dari warga biasa. Ukuran kekuasaan ini ada yang bersumber dari aspek formal (kekuasaan negara misalnya), ada juga yang bersumber dari aspek nonformal (misalnya preman baru mengalahkan preman penguasa terminal terdahulu).
3. Ukuran kehormatan. Ukuran ini terlepas dari ukuran-ukuran material sebagaimana ukuran kekayaan. Juga tidak bersumber dari kekuasaan. Ukuran kehormatan bisa berasal dari tindakan-tindakan kepahlawanan, atau tindakan berjasa yang manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat.
4. Ukuran ilmu pengetahuan. Ukuran ini dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Atau lebih tepatnya, ukuran ini dipakai oleh masyarakat yang menyandarkan dirinya kepada ilmu pengetahuan ketika sedang menghadapi masalah. Karena pencarian setiap keputusan dan sikap yang diambil didasarkan kepada ilmu pengetahuan, maka menjadi wajar jika orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan menjadi rujukan, dan mendapat penghormatan yang tinggi.
Ukuran-ukuran yang dipaparkan Soerjono Soekanto bukanlah harga mati. Dalam satu masyarakat, bisa saja ukuran-ukuran tersebut saling berbaur atau berkombinasi, sehingga muncul ukuran-ukuran kombinatif. Yang terpenting bagaimana kita bisa meraba corak masyarakat yang tengah kita dekati lewat pisau analisis stratifikasi sosial.
S.K.A.
Jika corak telah teraba, selanjutnya yang mesti dilakukan adalah merancang tindakan yang tepat (termasuk memilih orang yang tepat) untuk melakukan pendekatan. Cara kita berkomunikasi dengan masyarakat yang mendewa-dewakan kekayaan tentunya berlainan dengan masyarakat yang lebih menghargai ilmu pengetahuan. Pendekatan terhadap sebuah desa yang lebih menghormati tuan tanah, tentunya berlainan dengan desa yang lebih menghargai pemuka agama. Bertingkah laku di desa yang lebih mengagungkan uang, tentunya lain dengan di desa yang lebih mengedepankan nilai-nilai agama dan keteladan. Sebenarnya ratusan tahun yang lalu, nenek moyang kita punya resep manjur bagi para pelaku pendampingan masyarakat. Resep itu adalah sebuah pepatah yang berbunyi : lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Demikian pula dengan masyarakat : lain budaya lain pula pendekatannya, lain stratifikasi sosial lain pula teknik persuasinya.
Namun yang paling utama dan yang pertama kali harus dituntaskan bagi aktivis lingkungan sebelum melakukan pendekatan terhadap masyarakat adalah dirinya sendiri. Teori pendekatan masyarakat paling canggih pun tetap takkan ampuh jika praktisinya adalah aktivis lingkungan yang pandir dalam membawa diri. Bagaimana dia akan piawai mengelola konflik lingkungan berdimensi kemasyarakatan, jika dia sendiri tak piawai mengelola diri.
Cerdas saja tak cukup, seorang aktivis lingkungan juga mesti rendah hati agar bisa diterima masyarakat. Pakar ekonomi dan sumberdaya manusia Prof. Dr. Syafi’i Antonio menyatakan, ada 3 faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang, yakni Skill, Knowledge, Attitude (SKA). Berdasarkan risetnya, menurut Syafi’i Antonio, faktor yang paling menentukan adalah faktor Attitude (sikap, perilaku). Ilmu yang tinggi, peralatan canggih, dan kecukupan logistik takkan berarti apa-apa dalam pendekatan terhadap masyarakat, jika berada di tangan aktivis yang ber-attitude negatif. Sekalipun ilmu kita mumpuni dan sekalipun alat kita mutakhir, maka itu akan sia-sia belaka jika kita tidak menghargai tatanan yang ada dalam masyarakat. Nenek moyang kita pun telah berpesan tentang pentingnya hal itu lewat pepatah : dimana bumi dipijak, di sanalah langit dijunjung.
Berani saja tak cukup, seorang aktivis lingkungan juga harus tulus. Seorang pemberani adalah orang yang berani berbuat baik, namun berani pula dilupakan, berani untuk tidak dikenang, dan berani untuk tidak dicatat dalam sejarah. Salam adil dan lestari !
Banyuwangi, 23 November 2011
—————–
Daftar pustaka
Candra Kirana, Advokasi itu Komunikasi, BSP-KEMALA, 2001
Eko Teguh Paripurno dan Wahyu Giri Prasetyo, Petunjuk Pengamatan Kawasan untuk Pecinta Alam, Kappala Indonesia, 1999
Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, 1993
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Rajawali Pers, 1987
////////////////////////////////
**tulisan ini adalah makalah materi “Pengamatan Masyarakat dan Kearifan Lokal” Meru Betiri Service Camp (MBSC) XIII, Wadah Informasi Pecinta Alam se-eks Karisidenan Besuki (WIPAB), Sukomade 25-29 November 2011.
**keterangan foto : Judul “Mengabadikan”. Sumber Fotomedia no. 31 tahun IX Desember 2001.
November 13, 2011 - Posted by rosdi bahtiar martadi - 0 Comments

Lirih Penyair Murung,
Inner Journey ala Dialog Dini Hari
Oleh: Rosdi Bahtiar Martadi
“…Aku terduduk termenung disiang hari
Melamun murung dimalam hari
Ku tak bisa menyentuh-Mu
Kutak bisa memeluk-Mu
Kupahat nama-Mu di hatiku
Kutanam bunga di taman jiwaku
Terbungkus wangi-Mu
Harum nafas-Mu…”
(kutipan lagu “Lirih Penyair Murung”, Dialog Dini Hari, cipt. Dadang SH Pranoto)
Maslow’s Hierarchy of Needs (hirarki kebutuhan Maslow) yang sering disebut sebagai piramida kebutuhan Maslow, layaknya sebuah teori memang telah berhasil mengklasifikasi sekaligus mengurutkan secara hirarkis hal-ikhwal kebutuhan manusia. Mulai dari kebutuhan badani seperti makan, minum, tidur dan penyaluran hasrat biologis, hingga kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan diri, yang kemudian dipuncaki oleh kebutuhan aktualisasi diri. Namun meski urut, ternyata ada 1 kebutuhan yang luput dari teori ini, yakni kebutuhan spiritual.
Kebutuhan yang luput dari pisau bedah Hirarki Kebutuhan Maslow itu, pada hakekatnya adalah kebutuhan mendasar yang ada semenjak kita beranjak dewasa (baca: akil baligh). Jika mau jujur melakukan inner journey (perjalanan ke dalam diri sendiri), maka akan kita temui bahwa dalam hati setiap orang, sesungguhnya pernah berkelebat pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti; Siapakah aku? Darimana asalku? Untuk apa aku ada di dunia ini? Bagaimanakah dunia ini diciptakan? Siapakah pencipta dunia ini? Atau bahkan pertanyaan yang paling “menantang”, yakni apakah Tuhan itu benar-benar ada?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sebenarnya secara otomatis akan berkelebat dalam setiap hati manusia, hanya saja ada yang sebagian mengabaikannya, dan ada sebagian lainnya justru “tertantang” untuk mencari jawabannya.
Ribuan tahun sebelum Maslow lahir, seorang remaja bernama Ibrahim telah tercatat dalam sejarah sebagai manusia yang mengerahkan segenap rasionalitasnya untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya. Sejarah mencatat, jauh sebelum para filsuf Yunani menyoal tentang epistemologi dan causa prima, telah lahir seorang pemuda bernama Ibrahim yang all out menggunakan akal belia-nya untuk menjawab pertanyaan tentang eksistensi Tuhan.
Pada awalnya, pemuda Ibrahim tersebut menyangka bintang-gemintang adalah tuhannya. Tetapi sangkaan ini segera pudar, ketika benda langit yang bernama bulan muncul dengan cahaya lebih benderang daripada bintang. Seketika itu pun, Ibrahim menetapkan bulan sebagai tuhannya. Namun, lagi-lagi Ibrahim harus mengubah penilaiannya ketika dia melihat matahari yang jauh lebih terang dari bulan.
Hingga akhirnya, Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk menumbuk-halus 4 ekor burung, lalu mencampurkannya satu sama lain, kemudian lumatan daging tersebut di tebar ke 4 penjuru yang berbeda. Tuhan pun memerintahkan Ibrahim untuk memanggil daging-daging tersebut, dan atas ijin Tuhan, daging-daging itu mendatangi Ibrahim kembali dalam keadaan utuh sempurna sebagai 4 ekor burung.
Sejatinya, pertanyaan tentang Tuhan tidak hanya “diidap” oleh manusia yang berpredikat nabi, seperti Ibrahim tersebut. Setiap manusia, sesungguhnya pernah “dijangkiti” pertanyaan yang sama, meski kadar dan aktualisasinya berbeda.
Pertanyaan tentang ada-tidaknya Tuhan, mirip sebuah chip yang tertanam dalam diri kita semenjak lahir. Yang setiap saat tiba-tiba bisa beroperasi tanpa kita perintah.
Sebagian dari kita mungkin tak hanya bertanya apakah Tuhan itu ada? Tetapi bahkan bertanya kenapa pertanyaan semacam itu bisa tiba-tiba saja berkelebat. Atau bahkan bertanya, organ tubuh manakah yang paling ber-reaksi ketika pertanyaan tentang eksistensi Tuhan mendadak mendominasi pikiran. Untuk menjawab pertanyaan itu, seorang ahli saraf bernama V.S. Ramachandran, bersama timnya yang berasal dari Universitas California, AS, melakukan riset ilmiah.
Hasilnya, pada tahun 1997, V.S. Ramachandran dan timnya menyimpulkan bahwa ada bagian otak kita yang memang “bertanggungjawab” atas kebutuhan-kebutuhan spiritual. Bagian otak yang dimaksud itu, juga menjadi gudang amunisi yang berisi pertanyaan-pertanyaan seputar Tuhan, yang sewaktu-waktu bisa menembakkan “peluru-peluru” pertanyaan spiritual tanpa kita duga sebelumnya.
Berdasarkan risetnya, V.S. Ramachandran dan timnya menyimpulkan bahwa terdapat God Spot (“Titik Tuhan”) dalam otak manusia. “Titik” inilah yang “menyebabkan” manusia bertanya tentang Tuhannya. Secara ilmiah, V.S. Ramachandran dan timnya juga menjelaskan bahwa “Titik Tuhan” ini telah built in sebagai Spiritual Center (pusat spiritual) yang locus fisikalnya berada di bagian depan otak. Bagian otak di “titik” inilah yang bakal bekerja lebih keras tatkala kita melakukan inner journey untuk menganalisis bukti-bukti keberadaan-Nya yang berserak di dalam diri kita sendiri.
Dari simpulan V.S. Ramachandran dan timnya, akhirnya kita mahfum kenapa hampir setiap orang bisa dipastikan pernah disergap oleh serangkaian pertanyaan tentang Tuhan, walaupun hanya sekelebat. Simpulan ini juga logis, karena Tuhan pun punya kepentingan untuk “mengenalkan” dirinya kepada kita, makhluk masterpiece-Nya, yang disebut manusia ini.
Sebagai Sang Pencipta kreativitas, Tuhan pun memiliki cara cerdik nan kreatif dalam “mengenalkan” diri-Nya kepada kita. Tentunya, dengan cara yang berbeda dengan Ibrahim, apalagi berdialog langsung seperti Musa, karena kita harus tahu diri bahwa kita bukanlah nabi. Tetapi meskipun begitu, efeknya tetap saja dahsyat. Tuhan cukup “menyentuh” God Spot kita, lalu menanamkan sekian pertanyaan seputar keberadaan-Nya. Hasilnya, kita pun dibuat “kelimpungan” oleh Tuhan, hingga kita pun gelisah, lalu bergerak mengenali-Nya. Baik bergerak secara inner journey, dengan mengkaji diri sendiri sebagai mikrokosmos. Maupun bergerak dengan cara outer journey, dengan mengkaji alam sebagai makrokosmos.
“Kegelisahan” semacam itulah yang juga menstimulasi Dadang SH Pranoto—vokalis dan gitaris Dialog Dini Hari—untuk melakukan inner journey sekaligus outer journey pada pertengahan Ramadhan 1430 H (antara akhir Agustus—pertengahan September 2009). Hingga akhirnya, petualangan sunyi-nya dalam mencari Tuhan itu melahirkan lagu Lirih Penyair Murung.
Musisi yang kadang dipanggil Dankie itu bercerita, bahwa proses kreatif lagu Lirih Penyair Murung itu dipenuhi oleh gelegak pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar Tuhan.
Inilah “kepelikan” yang mau tidak mau harus dihadapi musisi yang kerap tampil dengan ikat kepala itu. Dadang tidak bisa menghindari “kepelikan” itu, karena “kepelikan” itu berasal dari Sang Pencipta kepelikan itu sendiri. Bukankah, ketika Tuhan telah memutuskan, maka tak ada satu pun di jagat ini yang bisa membatalkannya? Begitu pula sebaliknya, jika Tuhan membatalkannya, maka tak ada satu kekuatan pun yang bisa menetapkannya. Pun, ketika Tuhan menembakkan kepelikan ke dalam hati seorang hamba, maka tak ada satu pun yang kuasa menjadi perisainya.
“Kegelisahan” tentang Tuhan, bukanlah kegelisahan yang by design alias disengaja. Hal tersebut secara estetis diungkapkan Dadang dalam penggalan lirik berikut: Berserah diri rela terbelenggu/ Aura indah-Mu menerjangku.
Siapakah yang bisa menghindar ketika Tuhan menerjangkan aura indah-Nya? Dan memang tak ada yang bisa kita lakukan ketika Tuhan menerjangkan aura indah-Nya, selain berserah diri, lalu merelakan diri kita terbelenggu kemauan-Nya.
Dalam dunia tasawuf, apa yang dialami Dadang ini adalah hal yang lumrah dirasakan para Salik (para “pejalan”) dan Sufi yang selalu gelisah karena ingin mengenal dan terus mengenal Tuhan.
Prosesi mengenali Tuhan memang kerapkali menghadirkan suasana gembira dan rasa kagum yang tiba-tiba menyeruak tanpa bisa dibendung. Kekaguman terhadap keindahan Tuhan inilah yang digambarkan oleh Dadang sebagai Aura indah-Mu menerjangku.
Di mata remaja yang tengah jatuh cinta, tak ada yang buruk dari diri kekasih yang dicintainya. Begitu pula bagi mereka yang tengah dilanda jatuh cinta kepada Tuhan. Apapun yang berhubungan dengan Tuhan selalu saja indah dan menggetarkan. Jatuh cinta semacam inilah yang oleh Emha Ainun Nadjib disebut sebagai “mabuk Allah”.
Dalam lagu Lirih Penyair Murung, suasana “mabuk Tuhan” tersebut, tak hanya diekspresikan lewat lirik. Romantisnya proses mencari Tuhan ini oleh Dialog Dini Hari dinarasikan dalam paduan bunyi-bunyian sederhana. Konseptuasi bunyi-bunyian sederhana tersebut sengaja dipilih, karena bunyi-bunyian sederhana justru memiliki kekuatan optimal dalam mendeskripsikan hal-hal prinsipil yang mendasar
Selain itu, karena upaya mengenali Tuhan adalah persoalan mendasar, maka komposisi musik lagu Lirih Penyair Murung ini sengaja dibuat “mendasar”, tanpa progresi dan aktualisasi skill musikal yang meluap-luap.
Karena mengisahkan sesuatu yang mendasar, maka bukan tanpa motif, jika unsur harmoni bunyinya dikonsep minimalis. Pencarian Tuhan adalah ruang yang teramat personal dan lebih cenderung bernuansa hening. Demi menajamkan nuansa hening tersebut, band yang dipandegani oleh Dadang SH Pranoto (vokal dan gitar), Michael Brozio Orah (bass), dan Putu Deny Surya Wibawa (drum) ini menjadikan musik minimalis sebagai konsepsi aransemen Lirih Penyair Murung.
Lalu untuk mengentalkan suasana kasmaran Ketuhanan yang “melankolis” (baca: “murung”), band yang lahir pada akhir kuartal pertama 2008 ini pun sengaja menggandeng Latu Revolis Didandu, seorang pemain biola kelahiran Banyuwangi. Sedangkan untuk menghadirkan nuansa pengembaraan, band yang lahir sebagai buah dari obrolan lepas ini “meminang” Richie Perrot, seorang musisi blues berkebangsaan Inggris untuk memainkan jimbe.
Seperti galib-nya suasana kasmaran, maka satu dari sekian dampak cinta adalah hadirnya sebentuk kerinduan. Ini juga berlaku dalam situasi kasmaran terhadap Tuhan, yang seringkali lebih lirih dan lebih “mengiris” daripada kasmarannya seorang pemuda ingusan kepada gadis incarannya. Untuk mengusung kerinduan kepada Tuhan yang “lirih-mengiris” tersebut, selaku vokalis, Dadang sengaja menggunakan teknik falsetto ketika menyanyikan bagian reffrain lagu ini.
Dengan teknik falsetto, kerinduan itu tak hanya terdengar murung dan lirih, tetapi jadi lebih mengiris. Dengan falsetto, bagian reffrain yang berbunyi: Ku tak bisa menyentuh-Mu/ Kutak bisa memeluk-Mu/ Kupahat nama-Mu di hatiku/ Kutanam bunga di taman jiwaku// Terbungkus wangi-Mu/ Harum nafas-Mu ini menjadi lebih kulminatif.
Syahdan, jika anda gelisah karena selalu bertanya tentang Tuhan, maka jangan pernah merasa sendiri, karena di belahan bumi yang lain, ada Dialog Dini Hari yang menyanyikan kegelisahan yang sama.
Jika karena prosesi pencarian jawaban tentang Tuhan, anda diberi label freak oleh kawan-kawan anda, maka janganlah merasa sendiri, karena di salah sudut Denpasar, Bali sana, ada Dadang SH Pranoto yang pernah merasakan hal yang sama.
Jadi, jangan pernah takut untuk mengenal Tuhan. Jangan pernah takut melakukan inner journey! Justru sebaliknya, tertantanglah. Tertantanglah. Dan, tertantanglah! *****
Penataban, Banyuwangi, 13 November 2011
—–[[[[[]]]]]—–
**keterangan gambar : “Lautan Watak”, karya Rosdi Bahtiar Martadi (ballpoint di atas kertas HVS).
** Info lebih lengkap tentang Dialog Dini Hari bisa di lihat di www.dialogdinihari.com